RESENSI FILM WAGE, LECUT SEMANGAT KEBANGSAAN

PCTA INDONESIA – Musik yang hebat mampu mengubah dunia. Lewat alunan syairnya dapat menggerakkan massa, sehingga menjadi alat pemersatu bangsa. Seperti WAGE Supratman dengan musik Indonesia rayanya, menjadi bentuk ekspresi seni melalui bahasa universal yang menginspirasi banyak orang. Benar, karya musik tak dapat sepenuhnya dihargai tanpa mengenal siapa penciptanya.

WAGE Supratman dikisahkan kembali melalui film inspiratif Wage dengan salah satu pemeran utamanya Rendra Bagus Pamungkas. Film ini menjadi salah satu karya untuk mengenang jasa WAGE Supratman bagi generasi muda. Tak heran jika PCTA Indonesia juga menggencarkan nonton bareng (nobar) film Wage dalam agendanya seperti saat diskusi lewat dialog kebangsaan di beberapa daerah, hal ini tentu untuk menginspirasi semangat kebangsaan dan direkomendasikan menjadi tontonan masyarakat.

Dalam film Wage, penonton akan disuguhkan dengan kisah Supratman cilik. Sedari kecil, dia sudah menyenangi musik hingga menjadi seorang komponis dengan karya besar seperti saat ini. Melalui lagu yang dilahirkannya itu, dia pun menjadi tokoh kemerdekaan dan terus dikenang. Berbagai sisi menarik WAGE Supratman diceritakan dalam film mulai dari karirnya yang bergabung dengan band jazz, menjadi seorang jurnalis, hingga membuat cerita roman.

Seperti direview oleh Wage review online, Supratman menjadi seorang yang berpengaruh dan dianggap berbahaya bagi pemerintah Belanda. Lantaran musiknya yang dinilai mampu mempengaruhi banyak orang dengan menghimpun keberanian rakyat. Sutradara film John De Rantau mampu mengubah kepahlawanan menjadi anti hero. Wage dikemas menjadi sebuah drama yang terinspirasi oleh gaya noir itu.

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya, menjadi salah satu syair dari lagu kebangsaan Indonesia. Tentu saja, perjuangan Supratman dalam menciptakan lagu juga turut disajikan dalam film. Namun, ternyata menurut beberapa pihak dikemas dalam aspek lain. Lewat denting-denting penempa besi, Supratman membuat lagu dengan berulang kali merevisi nada di catatan partitur. Rendra nyatanya berhasil menghidupkan tokoh Supratman itu. 

Dialog-dialog sejarah dalam film diciptakan flat out dari buku sejarah. Selain itu, dalam cuplikan film juga gemar membangun untuk menjadikan latar belakang seperti adegan rapat Kongres Pemuda. Film Wage pun termasuk berbeda dari yang lain dengan mengangkat sudut pandang lagu kebangsaan. (tim)

 

Tinggalkan Balasan