SUKARNO Penyambung Lidah Rakyat

Bung Karno adalah sosok yang kontroversial. Di mata lawan-lawan politiknya di Tanah Air-nya sendiri, sebagian menganggap ia mewakili sosok politisi kaum abangan yang “kurang islami”. Mereka bahkan menggolongkannya sebagai gembong kelompok “nasionalis sekuler”. Akan tetapi, di mata Syeikh Mahmud Syaltut dari Cairo, penggali Pancasila itu adalah Qaida adzima min quwada harkat al-harir fii al-balad al-Islam (Pemimpin besar dari gerakan kemerdekaan di negeri-negeri Islam). Malahan, Demokrasi Terpimpin, yang di negerinya sendiri diperdebatkan, justru dipuji oleh syeikh al-Azhar itu sebagai, “lam yakun ila shuratu min shara asy syuraa’ allatiy ja’alha al-Qur’an sya’ana min syu’un al-mu’minin” (tidak lain hanyalah salah satu gambaran dari permusyawaratan yang dijadikan oleh Al Quran sebagai dasar bagi kaum beriman).              

Di mata lawan politiknya di Barat, seperti tampak dari ucapan Willard A Hanna, Bung Karno adalah “politisi tanpa identitas dan tanpa prinsip, yang berpadu dalam dirinya nabi dan playboy, tukang sulap dan tukang obat”. Tetapi, orang-orang Arab menamakannya Ra’is, dan orang-orang Mesir di Kota Cairo menjulukinya al-Hakim. Tak seorang pun meragukan popularitasnya di negeri-negeri Islam itu. Nama besar Bung Karno diabadikan antara lain dalam Qamus al-Munjid. Konon, hanya dua tokoh Indonesia yang dicatat dalam kamus karya Louise Ma’louf, seorang Arab-Kristen itu. Soekarno, dan satunya lagi Syeikh Nawawi al-Banteni. Sampai-sampai sekarang ini di beberapa Negara seperti Rusia, Jordan, Iran, dll, nama Indonesia sendiri kurang dikenal tetapi kalau nama Soekarno yang disebut, baik yang muda maupun yang tua mereka tahu. Bung Karnolah justru yang pernah mensitir ayat al Quran di sidang PBB yakni surat Al-Hujurot 13, tentang penciptaan manusia yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal mengenal, sedangkan Negara-negara yang menyatakan diri mereka Negara Islam malahan tidak pernah menyampaikan ayat al Quran ketika bersidang di PBB. Dan ayat al Hujurot 13 ini yang kemudian diabadikan di tempat sidang PBB.              

Tatkala memuncaknya ketegangan antara Israel dan negara-negara Arab soal status Palestina, pers sensasional Arab yang salah paham dengan pencabutan sebutan Deicidium (pembunuh Tuhan) kepada kaum Yahudi, menyambut Bung Karno, “Juara untuk kepentingan-kepentingan Arab telah tiba”. Pada pihak lain, Tahta Suci Vatikan sendiri memberikan kepadanya tiga gelar penghargaan kepada presiden pertama dari Republik yang mayoritas Muslim itu. Tetapi bagi Bung Karno sendiri, gelar yang disenangi adalah Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.(Sumber : Kompas CyberMedia, Jumat, 1 Juni 2001)  KEYAKINAN RELIGIUS BUNG KARNO              

Relevansi mengemukakan keyakinan religius Bung Karno ini, terkait erat dengan peranannya dalam menentukan masa depan Indonesia, berangkat dari pluralisme agama yang merupakan problem tersendiri di Negara Indonesia. Kenyataan ini dikemukakan, dengan sepenuhnya menyadari bahwa mengemukakan spiritualitas Bung Karno adalah juga merupakan bagian dari kontroversi itu sendiri.       “Gaya religius Soekarno adalah gaya Soekarno sendiri,” tulis Clifford Geertz dalam Islam Observed (1982). Betapa tidak? Kepada Louise Fischer, Bung Karno pernah mengaku bahwa ia sekaligus Muslim, Kristen, dan Hindu. Di mata pengamat seperti Geertz, pengakuan semacam itu dianggap sebagai “bergaya ekspansif seolah-olah hendak merangkul seluruh dunia”. Sebaliknya, ungkapan semacam itu-menurut BJ Boland dalam The Struggle of Islam in Modern Indonesia (1982)-“hanya merupakan perwujudan dari perasaan keagamaan sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya Jawa”. Bagi penghayatan spiritual timur, ucapan itu justru “merupakan keberanian untuk menyuarakan berbagai pemikiran yang mungkin bisa dituduh para agamawan formalis sebagai bid’ah“.   Ungkapan Bung Karno ini, di mata para penghayat tasawuf bukanlah hal yang asing. Seperti apa yang disampaikan oleh Ibn Al-‘Arabi (1076-1148) mendendangkan kesadaran yang sama. “Laqad shara qalbiy qabilan kulla shuratin, famar’a lighazlanin wa diir liruhbanin wa baytun li autsanin wa ka’batu thaifi wal wahu tawrati wa mushafu qur’anin” (Hatiku telah siap menerima segala simbol, apakah itu biara rahib-rahib Kristen, rumah berhala, Kabah untuk thawaf, lembaran Taurat atau mushaf Al Quran).               Demikian juga dengan istilah yang seolah berlawanan tetapi sama dengan apa yang disebutkan di dalam salah satu syair Jalalludin Rumi,”Tidak kutemukan Tuhan di atas tiang salib, tidak kutemukan Tuhan di dalam Vihara dan Klenteng, tidak juga kutemukan Tuhan di dalam Ka’bah melainkan kutemukan Tuhan dihati orang-orang suci”              

Ketika menerima gelar doctor honoris causa (doktor kehormatan) di Universitas Muhammadiyah, Jakarta, Bung Karno menyebut bahwa tauhid yang dianutnya sebagai Pantheis-monoteis. Bung Karno yakin bahwa Tuhan itu satu, tetapi Ia hadir dan berada di mana-mana. Tentu saja di kalangan Islam dan Kristen, istilah pantheisme ini sebagian mengundang menjadi salah paham. Kontan saja, orang langsung menghubungkannya dengan sosok legendaris Syekh Siti Jenar, yang mengatakan,”Siti Jenar tidak ada yang ada adalah Allah”, atau Syech Mansyur al Hallaj yang mengatakan,”di balik jubahku ini yang ada adalah al Haq”, atau dengan apa yang disampaikan oleh Syech Yazid Bustami,”Laa ilaha ila anna, fa’budni”,”Tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku” (kutipan dari Al Quran surat Thoha 14), dan coba bandingkan dengan ajaran Hindu Tat Twam Asi (Aku adalah dia, dia adalah aku). Atau apa yang diyakini oleh Katolik,”Abba ya Bapa” “Bapa didalam aku dan aku di dalam Bapa”               Sebagaimana juga apa yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali (wafat 1111), At Tauhid al-khalis an layaraha fii kulli syai’in ilallah (Tauhid sejati adalah penglihatan atas Allah dalam segala sesuatu). Juga, menurut Syeh Muhyiddin Ibn al-‘Arabi, segenap alam semesta adalah tajjali atau penampakan dari Allah. Atau kadang juga para sufi menyatakan dengan istilah Laa Maujuda ilalloh, Tidak ada yang wujud melainkan hanya Allah semata. Dzat Wajibal wujud. Sebagian menyebut faham ini dengan istilah Wujudiyah atau juga Wahdatul Wujud.Keyakinan ini sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam al Quran,”Kemana engkau menghadap di situ yang tampak wajah Allah”Atau sesuai dengan apa yang disampaikan oleh sahabat Abu bakar Shiddiq, “Sebelum aku melihat sesuatu di situ aku melihat Allah”,Atau seperti yang disampaikan oleh Umar bin Khottob,”Saat aku melihat sesuatu di situ aku melihat Allah”,Atau juga seperti yang disampaikan oleh Ali kwh, “Setelah aku melihat sesuatu, aku melihat Allah”, Semuanya sama meski istilahnya berbeda-beda, sebab mereka semua fokus lahir bathinnya, segenap jiwa dan raganya hanyalah terfokus dan tertuju kepada Allah semata.Ini yang kemudian menjadi sila yang pertama dalam Pancasila “KETUHANAN YANG MAHA ESA” NASIONALISME BUNG KARNO adalah NASIONALISME AGAMIS              

Berangkat dari keyakinannya terhadap Tuhan yang seperti itulah, maka Bung Karno faham benar bahwa “Cinta Tanah Air bagian dari Iman”. Mencintai sesama berarti mencintai Tuhan, bahkan mencintai alam berarti mencintai Pencipta-Nya. Dan cinta Bung Karno terhadap kosmos itu diawali dari Bumi tempat kakinya berpijak, Bumi pertiwi Indonesia yang disapanya dengan takjub dan hormat sebagai “Ibu”.          Lebih jelas lagi, kita bisa mengikuti deskripsi Bung Karno mengenai nasionalisme Indonesia yang diungkapkan begitu berapi-api: “Bukan saya berkata Tuhan adalah Indonesia”, kata Bung Karno, “tetapi Tuhan bagiku tercermin pula dalam Indonesia”. Singkat kata, di mata Bung Karno, perjuangan terhadap tanah air, bebasnya tanah air dari tanah penjajahan merupakan wujud perjuangannya di dalam membela “ibu” kandungnya, tempat dimana ia dilahirkan, dan merupakan perwujudan kecintaannya kepada Tuhannya yang diwujudkan melalui Cinta Tanah air. Perjuangan sampai titik darah terakhir demi bebasnya Ibu Pertiwi ini.   Gambaran ini pulalah yang menyebabkan lambang Burung Garuda (Garudeya) dipilih sebagai lambang bangsa Indonesia. Di dalam kisah Garudeya, adalah seorang ibu (lambang ibu pertiwi) yang sedang ditawan oleh ular-ular raksasa, dan hanya anaknya, sang Garuda-lah yang dapat membebaskan ibunya melalui pencarian terhadap air Amarta, Tirta Kamandanu, air kehidupan.   Bung Karno juga mengatakan, menyitir Gandhi, ” My Nasionalism is humanity”. Dan inilah yang kemudian menjadi sila ke 2 dari Pancasila, sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab” yang kemudian diwujudkan dalam Nasionalisme di sila ke 3 ,”Persatuan Indonesia”. PLURALISME SPIRITUALITAS BUNG KARNO

              

Latar belakang keyakinan Soekarno seperti yang diuraikan di atas, sudah barang tentu membentuk dan menentukan sosialisasi pemikiran keagamaan selanjutnya. Meski begitu, religiusitas Bung Karno itu bukanlah sinkretisme (percampuran) agama-agama, pluralisme bukanlah sinkretisme agama, pluralisme bukanlah pencampuradukan agama-agama, dan inilah yang perlu untuk dipahami. Atau di dalam istilah Bambang Noorseha (tokoh Kristen Syiria ortodoks), keyakinan Bung karno adalah sebuah “melintas batas” (passing over) berbagai agama dan tradisi spiritual. Hal itu kata Bambang, tampak dari pidato-pidato tanpa teks, ketika ia mengemukakan perbandingan-perbandingan dari berbagai agama, tamsil-tamsil dari ajaran Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha. Ayat-ayat suci itu dikutipnya bahkan di luar komunitas agama yang menganutnya. Misalnya, tanpa ragu-ragu ia mengutip Injil atau Bhagawad Gita di forum Islam. Sebagaimana tanpa ragu-ragu pula ia mengutip ayat suci yang ada di al Quran ketika berpidato di depan anggota-anggota PBB.              

Masih menurut Bambang Noorseha, warisan keberagaman itu bukan diterimanya sebagai kontradiksi atau pertentangan, sebaliknya sebagai suatu kekayaan rohani berdasarkan kesadarannya akan kesatuan transendental agama-agama. Dalam menggembleng rakyatnya, Bung Karno, misalnya sering mengutip Al Quran. ar Ra’d 11:Innallaha laa yughayiru maa bi qaumin hatta yughayiru ma bi anfusihim (Allahtidak mengubah nasib sesuatu kaum sehingga kaum itu mengubah sendirinasibnya),   Bung Karno juga mengutip dari Bhagawad Gita (II,47) ketika menekankan prinsip yang sama: Karmany ewadhikaras te maphalesu kadacana (Berjuanglah dengan tanpa menghitung-hitung untung rugi bagimu).              

Bahkan Bung Karno pernah membuat terperanjat Mr Siegenbeek van Heukelom yang mengadilinya di Landraad Bandung tahun 1930. “Ik ben een revolutionaire” (Saya seorang revolusioner), tegas Bung Karno. Tetapi kata dia selanjutnya: “Ik werk niet met bommen en granaten” (Saya bekerja tanpa bom dan granat). Hakim kolonial itu sangat kaget, karena Bung Karno menyebut bahwa Yesus adalah seorang yang revolusioner, meskipun Ia bekerja tanpa kekerasan. “Revolusi”, kata Bung Karno, adalah “eine Umgestaltung von Grundaus” (perubahan sampai ke akar-akarnya), baik dalam hal politik maupun dalam ajaran keagamaan. Dalam suatu pidatonya, Bung Karno di luar kepala dapat menghapal Injil Yohanes Pasal 1 dalam bahasa Belanda.               Bung Karno hanyalah salah satu dari mereka tokoh-tokoh Indonesia yang juga berpikiran sama, seperti Muh. Yamin, Hatta, H. Agus Salim, dll, yang telah begitu mendalami agama Islam dan juga mendalami agama-agama yang ada di Indonesia, juga termasuk masalah budaya-budaya yang ada di Indonesia, telah menyatukan bangsa Indonesia melalui kesepatakan/musyawarah dengan pemilihan symbol-simbol Pluralisme seperti Sang Merah Putih, Burung Garuda, Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang kesemuanya merupakan perekat kuat, bangsa Indonesia dengan kemajemukannya dalam agama, dalam suku, dalam budaya, dalam bahasa, dll. SUTASOMA dan BUNG KARNO               

Suatu malam di tahun 1962, bertempat di Pura Ubud, tatkala langit Pulau Dewata cerah bermandikan cahaya purnama. “Saya sangat terkesan dengan ucapan Sutasoma tadi,” kata Bung Karno usai pementasan wayang sambil menghampiri I Nyoman Granyam, seorang dalang dari Sukawati, yang khusus diundangnya untuk melakonkan Porusaddhasanta (Porusada yang ditenangkan) atau yang lebih dikenal dengan lakon Sutasoma itu.              

Lalu Bung Karno menyitir ungkapan bahasa Jawa kuno yang dimaksud, “Nanging hana pamintaku uripana sahananing ratu kabeh” (Tetapi permohonanku, hidupkanlah raja-raja itu semua). Itulah ucapan Sutasoma kepada raksasa Porusada, sambil menyerahkan dirinya sebagai santapan Kala, asal seratus raja itu dibebaskan.              

Perhatian yang diberikan Bung Karno pada ucapan Sutasoma “Mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa (Hakikat Buddha dan hakikat Siwa adalah satu, berbeda-beda dalam perwujudan eksoterisnya tetapi secara esoteris satu. Tidak ada dualisme dalam kebenaran ketuhanan)”. Yang kedua ini menjadi sangat penting sebab inilah yang menjadi akar keyakinan agama-agama yang ada di Indonesia, sebagaimana sesuatu akar keyakinan yang dipegang oleh Bung Karno selama hidupnya.               

Perhatian yang diberikan Bung Karno pada kisah Sutasoma yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi selamatnya seratus raja. Merupakan simbol dari pemecahan masalah kemajemukan bangsa dimana banyak raja-raja yang akan “selamat” tetap hidup, alias tidak dimatikan meski dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adanya Negara kesatuan dengan tetap menghormati akan hak para raja-raja, seperti Raja dari Keraton Jogjakarta sebagai salah satu daerah istimewa, dan juga Raja-raja diseluruh kerajaan di Indonesia. Tidak ada yang dimatikan dengan adanya Negara kesatuan republik Indonesia. Sebab itu, maka istilah “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai lambang pemersatu bangsa menjadi sangat tepat sebagai sebuah refleksi dari cerita Sutasoma di masa Negara Kesatuan Republik Indonesia.               

Dan seolah menjadi keyakinan yang mendarah daging pada diri Bung Karno, ternyata jalan yang sama seperti yang ditempuh Sutasoma akhirnya ditempuh oleh Bung Karno demi menyelamatkan bangsanya dari pecahnya “perang saudara” pasca-Gestok (Gerakan 1 Oktober) 1965. “Seorang anak revolusi akan dimakan oleh api revolusinya sendiri”, demikian kurang lebih ucapan Bung Karno. Dan seperti Sutasoma, Bung Karno justru menyerahkan dirinya sendiri, rela tenggelam demi keutuhan bangsa dan negaranya. “Cak Ruslan, saya tahu saya akan tenggelam. Tetapi ikhlaskan Cak, biar saya tenggelam asalkan bangsa ini selamat, tidak terpecah belah”, tegasnya kepada Ruslan Abdulgani.

Tinggalkan Balasan