Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia

 Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia 
Yang Berazaskan Nilai-Nilai Luhur Budaya Bangsa

Penulis: Prof. Dr. Ir. Tries Edy Wahyono, MM.

 

Bertahun-tahun para orang tua siswa, para guru, sekolah, pemerintah daerah dan  pemerintah pusat, disibukkan dengan kualitas pendidikan di Indonesia.

Pendidikan di Indonesia, diperbandingkan dengan Negara  lain yang hasilnya adalah kekecewaan, karena di bidang IPTEK sampai saat ini pendidikan di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan  kualitas pendidikan di Negara lain

 Menurut daftar kualitas pendidikan negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi Pembangunan (OECD) dirilis hari Rabu 13 Mei 2015 oleh BBC dan Financial Times bahwa kualitas pendidikan Indonesia menduduki posisi nomor 69 dari 76 negara.

 Hal ini semakin menambah kesibukan bagi para pemegang kewenangan dibidang pendidikan,

Bahkan sampai muncul fenomena yang solah-olah turun-temurun yaitu “ganti menteri ganti kurikulum”.

Yang lebih menyedihkan munculnya campur tangan oknum-oknum dalam ujian nasional, agar sekolahnya atau wilayahnya nampak “berprestasi” dengan memperoleh nilai angka yang tinggi, mereka melakukan manipulasi dengan cara-cara yang tidak terpuji, hanya untuk mengejar angka-angka semu. Disadari atau tidak, hal itu semakin memperburuk kualitas pendidikan di indonesia

Sistem Pendidikan seharusnya Mampu membentuk manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. (Socrates.2500SM)

 Disisi lain:

Tujuan Pendidikan Nasional dalam UUD 1945 (versi Amandemen)

  1. Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”
  2. Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

 Tujuan Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Sementara banyak pihak yang memahami tujuan pendidikan nasional secara tidak utuh dan akhirnya hanya fokus pada bidang tertentu saja. Sekarang ini, sekolah-sekolah di Indonesia sibuk untuk membekali siswa-siswinya dalam bidang iptek, sejak masih sekolah dasar hingga perguruan tinggi, anak (peserta didik) lebih banyak disibukkan dengan pembelajaran kognitif, pagi sekolah sore masih harus mengikuti les tambahan untuk mengejar “ketertinggalan dalam persaingan angka” sementara banyak ahli pendidikan mengatakan hal tersebut sudah sangat melebihi kemampuan (usia) peserta didik itu sendiri.

“Anak-anak berat terhadap tematik, terasa sekali setelah kurikulum ini (2013) dilaksanakan, orangtua banyak berkeluh kesah” kata Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, dalam konferensi pers di gedung Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/9/2014).

 Sedangkan untuk membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat tidaklah cukup dengan IPTEK, dan agar  menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab bagi anak bangsa (peserta didik) harus diarahkan untuk sadar dan memiliki jiwa cinta tanah air terhadap Indonesia  atau memiliki rasa nasionalisme terhadap bangsa dan negaranya.

Mengapa Cinta Tanah Air Indonesia?

 Kalau tidak ada Cinta Tanah Air bagaimana mau berjuang untuk bangsa dan negera Indonesia?

Kalau tidak ada Cinta Tanah Air bagaimana mau meraih prestasi dan kejayaan untuk Indonesia?

Kalau tidak ada Cinta Tanah Air bagaimana mau mempertahankan dan melestarikan apa yang sudah dimiliki dan menjadi hak bangsa dan negara indonesia?

Sehingga sangatlah  penting memberikan pendidikan tentang Cinta Tanah Air Indonesia kepada seluruh bangsa Indonesia.

Dalam kitab Sotasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular (abad XIV) “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” (Bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina(Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, tak ada dharma yang mendua).

Selanjutnya bangsa Indonesia menjadikan “Bhinnêka tunggal ika” sebagai semboyan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,  tertuang  dalam PP. No. 66 tahun 1951, 17 Oktober diundangkan tanggal 28 Nopember 1951, dan termuat dalam Lembaran Negara No. II tahun 1951.Makna Bhineka Tunggal Ika yaitu meskipun bangsa dan negara Indonesia terdiri atas beraneka ragam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang bermacam-macam serta beraneka ragam kepulauan wilayah negara  Indonesia namun keseluruhannya itu merupakan suatu persatuan yaitu bangsa dan negara  Indonesia

Dalam konteks membangun rasa cinta terhadap tanah air Indonesia dengan kondisi masyarakat yang memiliki latar belakang sangat beragam, bisa diawali dengan kesadaran bahwa kita hidup di Negara dengan “Bhineka Tunggal Ika”, tidak mementingkan  pribadi, suku dan kelompok agama tertentu dan tetap menyadari jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Kesadaran sebagai Orang Indonesia yang suku jawa,  Kesadaran sebagai Orang Indonesia yang suku bugis, Kesadaran sebagai Orang Indonesia yang beragama Islam, Kesadaran sebagai orang Indonesia yang beragama Hindu dll, bukan orang Islam di Indonesia atau orang Hindu di Indonesia karena hal tersebut bisa berarti walaupun Islam atau Hindu belum tentu orang Indonesia.

Untuk mencapai kesadaran itu sudah seharusnya dilaksanakan Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia yang  didasarkan pada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, serta nilai-nilai luhur Bangsa agar  Peserta didik mengetahui, menyadari posisinya sebagai pribadi, yang hidup di tengah masyarakat mulai lingkungan keluarga, lingkungan adat sebagai lingkungan kecilnya dan di lingkungan yang lebih luas sebagai masyarakat Indonesia serta kesadaran sebagai manusia yang hidup ditengah masyarakat dunia.

Dalam berkomunikasi sehari-hari Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pemersatu antar suku, tetapi bukan berarti meninggalkan kebiasaan masyarakat sekitarnya untuk berkomunikasi menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Manusia cerdas tidak hanya cerdik pandai dan mempunyai kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan serta ,menyelesaikan masalah melainkan juga bermoral, mempunyai sikap demokratis dan empati terhadap orang lain. Manusia cerdas menghargai dirinya sendiri dan juga orang lain dari berbagai latar belakang yang berbeda.(Howard gardner:Multiple intelegensi)

Sehingga Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia menjadikan peserta didik memahami unsur nasional, menyadari keberadaanya sebagai orang indonesia dan melestarikan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia,  serta tetap memegang teguh serta melestarikan nilai-nilai luhur budaya daerahnya sebagai kearifan lokal tiap daerah yang berbeda.

 Pendidikan  Cinta Tanah Air Indonesia harus berdasar pada Azas Nasional dan Kearifan Lokal.

Materi Pendidikan Cinta Tanah Air secara utuh bisa terbagi menjadi 2 inti materi, yang pertama berdasar pada Azas-azas Nasional agar peserta didik benar-benar memahami dan mampu melaksanakan nilai- nilai luhur yang terkandung dalam materi Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia dalam aspek nasional, dan yang kedua adalah materi yang didasarkan pada Kearifan Lokal  masing-masing daerah. Dengan tujuan agar peserta didik tidak kehilangan jati diri sebagai bagian masyarakat adat dan tetap memahami nilai-nilai luhur sesuai budaya daerah masing-masing dalam segala bidang. Materi Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia yang didasarkan pada kearifan lokal harus disesuaikan dengan daerah-daerah masing-masing  dimana peserta didik berada, karena dari ribuan nilai-nilai luhur kearifan lokal yang berasal dari berbagai daerah ini akan mampu menguatkan Cinta Tanah Air Indonesia kepada peserta didik.

Secara garis besar rancangan pokok-pokok materi Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia tertuang dalam tabel dibawah ini:

MATERI PENDIDIKAN CINTA TANAH AIR

  ASPEK NASIONAL ASPEK KEARIFAN LOKAL
1.a Sejarah Perjuangan Bangsa Sejarah Perjuangan Daerah
1.b Pahlawan nasional Pahlawan dan Pejuang di daerah
2. Sumpah pemuda 28-10-1928  
3. Proklamasi 17 – 8 1945  
4.a Pancasila Nilai-nilai sosial daerah
4.b Bhineka Tunggal Ika  
4.c garuda Pancasila Adat istiadat & Budaya
5.a Pembukaan UUD 45 Norma sosial daerah
5.b UUD 45  
6 Sang Merah Putih Simbol-simbol
7 Struktur Pemerintah Struktur Sosial
8 Cinta  Tanah Air (Nasionalisme)  
9.a Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Lagu Daerah
9.b Nasional lagu wajib  
10 Seni Budaya Nasional Seni Budaya Daerah
11 Agama di Indonesia Agama & Kepercayaan di Daerah
12 Posisi Indonesia diantara negara lain Posisi Daerah di antara daerah lain di wilayah Indonesia

Dalam pelaksanaan melalui jalur Formal Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia penting untuk dimasukkan dalam kurikulum nasional, dan Pendidikan Non Formal yang bisa dilaksanakan oleh  Lembaga2 non formal di :

  1. Keluarga
  2. Lingkungan sekitar tempat tinggal/masyarakat,
  3. Melaui kegiatan pramuka,
  4. Tempat Ibadah, lembaga agama
  5. Media cetak dan Elektronik serta Media informasi melalui internet, dll.

Selanjutnya secara teknis Pendidikan Cinta Tanah Air bisa mengadopsi 4 pilar pendidikan menurut unesco antara lain:

  1. Belajar mengetahui dan Memahami Unsur Nasional berbangsa, bernegara dan Unsur Kearifan Lokal,
  2. Belajar/Praktek melakukan sesuatu pada Unsur Nasional berbangsa, bernegara  dan Unsur Kearifan Lokal,
  3. Belajar Merasakan dan berperan menjadi sesuatu Unsur Nasional berbangsa, bernegara  dan Unsur Kearifan Lokal,
  4. Belajar hidup bersama dengan menerapkan Unsur Nasional berbangsa, bernegara  dan Unsur Kearifan Lokal.

Tentunya seluruh materi Pendidikan Cinta Tanah Air Indonesia harus disampaikan sejak dini hingga tingkat perguruan tinggi, secara proporsional sesuai jenjang pendidikan dan dengan menggunakan metode yang tepat, efektif dan sesuai  dengan kaidah pendidikan yang ada. (tries edy)

 

 

 

Tinggalkan Balasan